Beranda Advertorial Kisah Perjuangan Anak Petani Bojonegoro Hingga Jadi Lulusan Terbaik MHU UIN Walisongo

Kisah Perjuangan Anak Petani Bojonegoro Hingga Jadi Lulusan Terbaik MHU UIN Walisongo

0
Anita Firdaus, mahasiswi Bojonegoro, Jawa Timur, dikukuhkan sebagai wisudawan terbaik Program Studi Manajemen Haji dan Umroh S1 UIN Walisongo Semarang dengan raihan IPK gemilang, 3,73
Anita Firdaus, mahasiswi Bojonegoro, Jawa Timur, dikukuhkan sebagai wisudawan terbaik Program Studi Manajemen Haji dan Umroh S1 UIN Walisongo Semarang dengan raihan IPK gemilang, 3,73

SEMARANG – KanalSatu.id, – Anita Firdaus, mahasiswi Bojonegoro, Jawa Timur, mencuri perhatian setelah dikukuhkan sebagai wisudawan terbaik Program Studi Manajemen Haji dan Umroh (MHU) S1 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang dengan raihan IPK gemilang, 3,73. Bagi Anita, pencapaian ini adalah buah dari keteguhan hati dan ketekunan.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dan bahagia. Benar-benar tidak menyangka kalau bisa menjadi wisudawan terbaik di jurusan Manajemen Haji dan Umroh. Semoga ilmunya berkah,” ungkap Anita, Sabtu (23/5/2026), usai wisuda yang berlangsung di Gedung Tgk Ismail Yaqub, Semarang.

Keberhasilan Anita di bangku akademik dibuktikan lewat tugas akhir yang berani dan kontekstual. Ia sukses mempertahankan skripsi berjudul “Persepsi Jamaah Haji terhadap Kualitas Layanan Sistem Multi Syarikah pada KBIHU At-Tanwir Kabupaten Bojonegoro”.

Topik ini tergolong baru karena mengkaji sistem pelayanan haji yang kali pertama diterapkan pada 2025. Anita mengaku, dosen pembimbing sengaja mendorongnya mengambil judul tersebut agar ia memiliki wawasan yang luas serta jaringan yang banyak di luar kampus.

Meski demikian, proses turun ke lapangan tidaklah mudah bagi mahasiswi yang dikenal pemalu ini. Anita harus berulang kali bolak-balik ke KBIHU dan berhadapan langsung dengan jamaah yang belum pernah ia kenal sebelumnya.

“Pengalaman paling berkesan sekaligus menantang adalah saat menentukan responden untuk diwawancarai. Awalnya saya merasa takut meminta izin ke pihak KBIHU. Ditambah lagi saat mencari jamaah, ada yang menerima dengan baik, tapi ada juga yang menolak. Namun dari situ saya belajar berani,” kenang mahasiswi yang berharap skripsinya ini bisa menjadi tambahan wawasan baru bagi dunia perhajian di Indonesia.

Anak Petani

Anita lahir dari keluarga sederhana. Kedua orang tuanya, Ghozali dan Umariyah, bekerja sebagai petani dan hanya mengenyam pendidikan lulusan Sekolah Dasar (SD). Hal itu tidak membuat langkah Anita surut. Sebaliknya, keterbatasan ekonomi keluarga justru menjadi pemantik bahan bakar spiritualnya.

Ketika mahasiswa lain sering mengeluh karena merasa jenuh (burnout) selama kuliah, Anita justru mengaku sama sekali tidak pernah merasakannya. Rahasianya terletak pada sebuah petuah sakti dari orang tuanya yang selalu ia tancapkan di dalam dada.

“Saya tidak pernah jenuh karena selalu ingat pesan orang tua: ‘Temannya orang sukses itu ilmu. Jadi jangan meniru bapak ibu yang lulusan SD dulu. Bapak Ibu ingin sekolah sampai sarjana tapi tidak tercapai. Jadi, sekolah lah yang rajin, tekun, dan jangan lupa doakan bapak ibu.’ Ucapan itu yang membuat saya selalu bersemangat dalam menuntut ilmu,” tutur Anita menahan haru.

Tak hanya itu, sang ibu juga kerap melemparkan lecutan motivasi yang unik agar Anita serius menguasai jurusannya. “Ibu pernah bilang, ‘Kuliah Manajemen Haji Umroh tapi kok tidak paham materi haji umroh? Nanti kalau jadi petugas atau pembimbing bagaimana nasib jamaahnya?’ Kalimat ibu itu yang membuat saya selalu memanfaatkan waktu luang di pondok (Ma’had) untuk terus melahap buku materi haji dan umroh.”

Sosok Santri

Selama kuliah, Anita tinggal di lingkungan Ma’had (pondok pesantren).  Hal itu menuntut Anita pintar membagi waktu. Kuncinya, ia selalu berkomitmen menyelesaikan tugas kuliah tepat waktu setelah seluruh kegiatan Ma’had selesai. Beruntung, Anita dikelilingi oleh sahabat-sahabat kuliah yang suportif yang selalu siap mengulurkan bantuan saat ia kesulitan memahami materi kelas.

Meskipun saat masuk kuliah di tahun pertama ia tidak pernah menargetkan predikat lulusan terbaik, Anita mulai menata mimpinya di semester empat. Ia membuat target tertulis untuk lulus tepat waktu di semester delapan dengan predikat cumlaude. Melalui ikhtiar dan tawakal, target itu kini lunas terbayar secara kontan.

Saat diminta menyampaikan pesan untuk Bapak dan Ibu di rumah, Anita menyampaikan untaian kalimat yang begitu menyentuh. “Terima kasih banyak Bapak dan Ibu yang selalu mendoakan dan memberikan dukungan setiap hari. Berkat doa Bapak Ibu, saya bisa menyelesaikan studi ini. Saya tidak bisa membalas apa pun saat ini, kecuali doa terbaik untuk kalian.”

Satu prinsip hidup yang dipegang erat oleh Anita dalam merangkum seluruh dinamika kuliahnya adalah: “Semua orang bisa sukses, namun semuanya tergantung pada tawakal dan ikhtiarnya.”

Meski sudah jadi sarjana, Anita tidak ingin berpuas diri. Lulusan terbaik MHU ini sudah menyusun rencana untuk melangkah ke fase berikutnya, yaitu melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi sekaligus berwirausaha. “Rencana saya selanjutnya ingin melanjutkan studi (S2) dan bekerja dengan membangun brand usaha sendiri,” tegasnya optimis.

Ia juga menitipkan pesan pembakar semangat bagi seluruh teman seangkatannya yang diwisuda pada periode ini. “Untuk teman-teman seperjuangan, selamat dan tetap semangat! Ini bukan akhir dari perjuangan kita, melainkan awal dari petualangan di dunia yang sebenarnya,” pungkas Anita. (Humas FDK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here