Beranda Advertorial Gagal Atasi Hama Tikus, Petani di Tambakromo dan Kayen Beralih Profesi

Gagal Atasi Hama Tikus, Petani di Tambakromo dan Kayen Beralih Profesi

0
Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Pati, Warsiti
Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Pati, Warsiti

PATI – KanalSatu.id, Serangan hama tikus yang melanda lahan pertanian di wilayah selatan Kabupaten Pati, khususnya Kecamatan Tambakromo dan Kayen, membuat sektor pertanian di kawasan tersebut terancam gagal panen. Kondisi ini mendorong sebagian petani mengambil keputusan untuk merantau demi mempertahankan penghidupan.

Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Pati, Warsiti, mengungkapkan bahwa serangan hama tikus yang berkepanjangan membuat petani kehilangan sumber mata pencahariannya di sektor pertanian. “Dia mengalihkan mata pencahariannya dengan merantau,” ujarnya.

Warsiti menjelaskan, lahan di wilayah tersebut sebenarnya lebih cocok ditanami jagung dan kacang hijau. Namun, berbagai upaya yang telah dilakukan petani, termasuk penggunaan obat pembasmi hama, tidak berhasil menekan populasi tikus yang terus merajalela.

Ia mengakui, dinas terkait sudah berupaya menangani persoalan ini, meski hasilnya belum maksimal. Ia menyatakan komitmennya untuk terus mendorong penanganan lanjutan bersama pihak berwenang.

“Kalau Dinas terkait itu saya sudah menyakini beliau-beliau sudah berupaya semaksimal mungkin, tetapi bagaimanapun karena ini tugas mereka tugas bersama bagaimana kita bisa meminimalisir hama tikus itu dengan berbagai cara. Juga kita berupaya bagaimana untuk meminimalkan pakai apa itu nanti masih kita bahas dengan dinas terkait,” katanya.

Menurut Warsiti, serangan hama tikus ini bukan persoalan baru, melainkan telah berlangsung hampir tiga tahun terakhir. Ironisnya, sejumlah petani nekat menggunakan setrum listrik untuk membasmi tikus, meski cara tersebut berpotensi membahayakan warga yang melintas di sekitar area persawahan yang berdekatan dengan jalan.

“Sudah hampir tiga tahunan, hama tikus merajalela dan ini yang tidak bisa diprediksi karena dengan adanya tikus itu sudah berupaya pakai obat ranjau dan segalanya tidak mempan. Masyarakat memakai setrum dan itu membahayakan masyarakat yang lewat karena berhubungan dekat jalan-jalan,” tandasnya. (ADV)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here