
Kabupaten Pekalongan PEKALONGAN — Kilasfakta.com, Proyek pengecoran Jalan poros Tengeng – Tanjungsari, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan menjadi sorotan warga, setelah kondisi jalan yang baru selesai dikerjakan kurang lebih sekitar dua bulan lalu mulai terlihat mengalami keretakan.
Pelaksanaan rehabilitasi jalan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Pekalongan, yang dilaksanakan oleh CV. FAZZADHITA beralamat di Desa Babalan Lor RT. 03/RW. 01 Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, dengan jumlah nilai Rp. 296.999.000,00 yang bersumber dari APBD tahun anggaran 2026, dalam masa pelaksanaan 75 hari kalender tersebut menuai sejumlah pertanyaan dari masyarakat setempat.
Pantauan di lokasi menunjukkan sejumlah bagian permukaan jalan mulai muncul retakan. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran masyarakat, terutama karena usia pekerjaan infrastruktur tersebut masih tergolong baru.
Warga mempertanyakan kualitas pekerjaan serta proses pelaksanaan proyek tersebut. Mereka berharap pihak terkait segera melakukan pengecekan untuk mengetahui penyebab munculnya retakan pada badan jalan.
“Baru sekitar dua bulan selesai dicor, sekarang sudah mulai terlihat retak. Kami tentu mempertanyakan kualitas pekerjaannya,” ujar salah seorang warga Tengeng Wetan.
Menurut warga, jalan tersebut merupakan akses penting bagi aktivitas sehari-hari masyarakat. Karena itu, kualitas pembangunan diharapkan benar-benar diperhatikan agar jalan dapat bertahan dalam jangka panjang dan tidak cepat mengalami kerusakan.
Hal yang sama juga sampaikan oleh Salah satu warga yang berdomisili RT. 5/RW. 1 Desa Tengeng Wetan, bahwa pengecoran tersebut belum lama jadi, namun sudah mulai retak.
“Memang belum lama jadi, tapi sudah pada retak, padahal juga sudah disiram air sama orang-orang sini, dari sana juga siram air pakai mobil. Apakah terlalu panas ya?,” kata warga yang punya ruko di sekitar lokasi, pada Sabtu (29/8/2026).
Masyarakat meminta pemerintah maupun instansi yang bertanggung jawab terhadap proyek tersebut turun langsung ke lapangan. Selain memastikan penyebab keretakan, warga juga berharap apabila ditemukan persoalan dalam pekerjaan, perbaikan dapat segera dilakukan sesuai ketentuan.
Hingga berita ini ditulis, belum diketahui secara pasti penyebab munculnya retakan tersebut. Pihak pelaksana maupun instansi terkait juga perlu memberikan penjelasan mengenai kualitas material, metode pengecoran, serta masa pemeliharaan proyek.
Warga berharap persoalan ini tidak dibiarkan berlarut-larut. Mereka meminta setiap pembangunan infrastruktur menggunakan anggaran publik dikerjakan dengan kualitas yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan. (Kf)










