Beranda Advertorial Wali Kota Pekalongan Pastikan Korban Dugaan Kekerasan SMPN 6 Dapat Pendampingan Psikologis

Wali Kota Pekalongan Pastikan Korban Dugaan Kekerasan SMPN 6 Dapat Pendampingan Psikologis

0

PEKALONGAN – KanalSatu.id, Pemerintah Kota Pekalongan memastikan siswa SMP Negeri 6 Kota Pekalongan, yang menjadi korban dugaan perundungan dan kekerasan, mendapat penanganan medis serta pendampingan psikologis.

Wali Kota Pekalongan, Achmad Afzan Arslan Djunaid mengatakan, pihaknya telah mengecek kondisi korban bersama Wakil Wali Kota Pekalongan Balgis Diab, dan memastikan pengobatan korban berjalan.

“Kita pastikan dari dinas, kemudian pengobatan di rumah sakit semuanya. Tadi saya sampaikan kepada orang tua agar jangan khawatir,” ujar Aaf, seusai pelantikan 47 pejabat struktural, di Halaman Kantor BPKAD Kota Pekalongan, Jumat (14/8/2026).

Menurut Aaf, kondisi fisik korban menunjukkan perkembangan yang cukup baik berdasarkan pengecekan sementara, dan tidak ditemukan luka serius. Pemeriksaan lanjutan tetap dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan korban.

“Yang kita pastikan adalah anak-anak ini jangan sampai terganggu belajar-mengajarnya. Korban ini nanti perlu didampingi psikolog untuk traumatiknya,” jelasnya.

Pemkot Pekalongan telah menyiapkan pendampingan melalui dinas terkait, bagi anak-anak yang membutuhkan penanganan psikologis. Edukasi kepada siswa juga akan dilakukan di sekolah-sekolah, sebagai bagian dari upaya pencegahan.

“Kita pastikan ini kejadian yang terakhir. Kita akan edukasi terus kepada sekolah-sekolah. Saya juga mengapresiasi langkah cepat berbagai pihak, termasuk aparat kepolisian yang turut memberikan edukasi kepada siswa SMP Negeri 6,” ungkapnya.

Sementara itu, pihak SMP Negeri 6 Pekalongan menyatakan telah memiliki SOP pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan sekolah.

Perwakilan SMP Negeri 6 Pekalongan, Qurratiani mengatakan, kejadian berlangsung saat jam istirahat dan melibatkan tiga siswa dalam satu pertemuan, dengan dua di antaranya melakukan kontak fisik terhadap korban.

Ia menegaskan, keselamatan dan kondisi korban menjadi prioritas sekolah. Penanganan juga dilakukan dengan melibatkan siswa yang terlibat dan orang tua masing-masing.

“Kejadian berawal dari persoalan hubungan pertemanan antara korban dan seorang siswi, yang kemudian berkembang melalui komunikasi di media sosial hingga terjadi kesalahpahaman. Korban kemudian diajak bertemu di toilet sekolah untuk melakukan klarifikasi, namun terjadi persinggungan yang berujung kontak fisik,” ujar Ani, sapaan akrabnya, saat ditemui di RSUD Bendan Pekalongan, Jumat (14/8/2026).

Kapolsek Pekalongan Timur, Kompol Tri Handayani, mengatakan, polisi turut menangani kejadian tersebut dan mendorong penyelesaian dengan mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak.

“Kami telah melakukan penanganan dan berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan secara kekeluargaan, dengan tetap memperhatikan kondisi korban serta pembinaan terhadap seluruh siswa yang terlibat. Polisi juga memastikan proses penanganan dilakukan dengan mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak,” tuturnya.

(Hms.Jtg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here