GARUT – KanalSatu.id, Media sosial yang selama ini banyak digunakan peserta didik untuk hiburan didorong menjadi ruang belajar, berkreasi, dan menghasilkan karya positif. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Komisi X DPR RI mengembangkan Gerakan Humas Muda untuk membekali pelajar dengan kemampuan literasi digital, komunikasi publik, serta keterampilan menghasilkan konten yang bermanfaat.
Gerakan tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan kesadaran pelajar mengenai pentingnya menggunakan media sosial secara aman dan bertanggung jawab. Peserta didik didorong memahami risiko di ruang digital, menjaga privasi, melindungi data pribadi, serta lebih bijak dalam membagikan informasi.
Upaya tersebut menjadi bagian dari ekosistem pelindungan anak di ruang digital dan sejalan dengan implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS), yang diperkuat melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026.
Sebagai bentuk penguatan program, Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat (BKHM) Kemendikdasmen bersama Komisi X DPR RI menggelar lokakarya “Humas Muda: Belajar Bermakna, Berkarya Bersama” di Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Garut, Jawa Barat, Jumat (7/8/2026). Kegiatan tersebut diikuti 100 peserta dari jenjang SMP, SMA, SMK, serta guru.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan IPI Garut, Lucky Rahayu, mengatakan perkembangan teknologi memberikan kemudahan bagi setiap orang untuk menyampaikan informasi. Namun, kemudahan tersebut harus diimbangi dengan karakter dan tanggung jawab.
“Di era digital saat ini, setiap orang dapat menyampaikan informasi dengan sangat mudah. Namun, tidak semua orang mampu menggunakannya dengan penuh tanggung jawab dan menginspirasi,” ujar Lucky.
Sementara itu, Anggota Komisi X DPR RI Ferdiansyah mendorong peserta didik menjadikan Gerakan Humas Muda sebagai ruang untuk mengembangkan potensi dan memberikan dampak positif bagi lingkungan. Ia mengingatkan pelajar agar mampu memilah informasi serta mempertimbangkan setiap konten sebelum dipublikasikan.
“Anak-anak semua harus tahu memilih dan memilah mana yang pantas dipublikasikan dan mana yang tidak. Bahasa Indonesia diutamakan, bahasa asing dikuasai,” tegas Ferdiansyah.
Kepala BKHM Kemendikdasmen, Yudhistira Nugraha, menilai pelajar perlu didorong menjadi pencipta karya, bukan hanya konsumen informasi. Menurutnya, sekolah juga harus menjadi ruang bagi generasi muda untuk menemukan makna pembelajaran sekaligus membangun kolaborasi.
“Jangan hanya menjadi konsumen informasi, jadilah pencipta karya. Seorang Humas Muda harus berani mencoba, tidak takut gagal, dan terus berkolaborasi untuk menciptakan dampak nyata bagi pendidikan bermutu untuk semua,” ujar Yudhistira.
Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kemendikdasmen, Laksmi Dewi, menambahkan bahwa Gerakan Humas Muda sejalan dengan pendekatan Pembelajaran Mendalam yang menempatkan murid sebagai mitra dalam proses pembelajaran.
“Pembelajaran mendalam adalah pendekatan yang memuliakan. Bagaimana guru dan murid saling menghargai, bertoleransi, dan berinteraksi secara positif,” jelas Laksmi.
Melalui sinergi guru dan murid, Gerakan Humas Muda diharapkan mampu membentuk generasi yang tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga kritis, kreatif, berkarakter, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan ruang digital.
(KEMENDIKDASMEN)









